Ubuntu adalah sistem operasi turunan dari Debian GNU/Linux yang memfokuskan diri kepada
terciptanya suatu Linux desktop yang mudah diinstalasi dan digunakan, usabilitas tinggi, bebas dan gratis, rilis yang teratur (6 bulan sekali, beserta jaminan support dan security update berjangka waktu cukup panjang tergatung jenis rilisnya) dengan bersumber kepada kehandalan Debian GNU/Linux.
versi dan varian ubuntu:

– Versi 4.10, rilis: Oktober 2004 ( Warty Warthog )
– Versi 5.04, rilis: April 2005 ( Hoary Hedgehog )
– Versi 5.10, rilis: October 2005 ( Breezy Badger )
– Versi 6.06 LTS, rilis: Juni 2006 ( Dapper Drake )
– Versi 6.10, rilis: Oktober 2006 ( Edgy Eft )
**berikut adalah langkah-langkah menjalankan Ubuntu Linux LiveCD :

– Pastikan RAM/memori cukup, idealnya RAM minimal adalah 256MB.
– Pastikan 1st Boot Device di setting BIOS adalah CD-ROM.
– Masukan CD Ubuntu Linux ke CD-ROM drive.
– Booting komputer anda.
– Pada menu boot yang muncul, pilih “Start & Install Ubuntu from CD”
– Tunggu hingga seluruh proses booting selesai.
– Ubuntu telah siap digunakan. Mudah bukan? ^_^

1. Menginstall Ke Harddisk

Selain dijalankan secara LiveCD, Ubuntu dapat diinstall ke harddisk untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai sistem operasi tanpa harus menggunakan CD. Berikut ini adalah langkah-langkah untuk
menginstall Ubuntu ke harddisk :
Sejak versi Dapper Drake 6.06, Ubuntu menyediakan program instalasi berbasis GUI yang sangat mudah. Kita hanya perlu mendouble klik icon “Install” yang ada pada desktop.

Setelah mengklik icon “Install” yang ada di desktop, akan muncul window yang berisi wizard yang akan menuntun kita untuk menginstall Ubuntu ke harddisk setahap demi setahap. Pertama-tama kita harus memilih bahasa apa yang akan kita gunakan :

Selanjutnya kita akan melakukan setting waktu dan tanggal. Kita dengan mudah cukup mengklik lokasi kita di peta untuk memilih timezone atau daerah waktu.

Lanjutkan dengan memilih setting keyboard yang kita gunakan :

Kemudian kita memasuki bagian yang penting, pengaturan account login. Pada bagian ini kita akan diminta menginputkan username dan password yang akan dipakai, juga nama host/mesin Ubuntu yang akan kita install.

Mempartisi Harddisk
Bagian berikutnya adalah pengaturan alokasi partisi harddisk. Dalam menjalankan proses partisi ini kita harus hati-hati terutama jika sebelumnya sudah terdapat data atau sistem operasi lain di partisi lainnya, namun proses ini sudah jauh lebih mudah dibandingkan proses partisi pada instalasi Linux lain atau versi Ubuntu sebelumnya. Pertama-tama kita bisa memilih apakah kita akan membiarkan sistem melakukan pembagian secara otomatis dan menghapus semua data untuk menggunakan keseluruhan harddisk, atau kita bisa juga memilih untuk melakukan partisi manual sesuai dengan keinginan kita dan memanfaatkan pembagian partisi yang sudah ada sebelumnya pada harddisk kita.


Jika kita memilih untuk mengkonfigurasi partisi secara manual, kita akan masuk ke tampilan QPartitioner. Bagi yang terbiasa menggunakan aplikasi partisi harddisk berbasis GUI seperti PartitionMagic mungkin akan sangat familiar dengan interface QPartitioner ini. Untuk melakukan pembagian partisi kita cukup memilih / mengklik partisi atau free-space mana yang akan dihapus atau diedit, lalu klik tombol “New”, “Delete” atau “Undo/Redo”. Selain itu kita bisa juga mengatur property untuk masing-masing partisi seperti jenis file system (ext2, ext3, fat32 dll.), ukuran partisi dan mount point.

Misalkan harddisk yang kita gunakan hardisk IDE 40GB yang dikenali sebagai “hda”. Berikut ini adalah
contoh pengaturan partisi :
Partisi hda1 : primary 8GB (ext3), untuk /
Partisi hda2 : extended 32GB, terdiri dari:
Partisi hda5 : logical 31GB (ext3), untuk /home
Partisi hda6 : logical 1GB (linux swap), untuk swap

Mount point “/”

Merupakan partisi untuk booting dan berisi sistem. Pada beberapa kasus dan pertimbangan, partisi untuk “/” dan “/boot” idealnya dipisahkan. Ubuntu membutuhkan minimal 3GB space untuk instalasi, 5- 10GB sudah sangat cukup untuk “/”.
Mount point “/home”

Partisi yang sengaja dipisah, dialokasikan untuk penyimpanan data dari masing-masing user. Tujuan dipisahkannya partisi untuk data ini adalah jika suatu saat kita bereksperimen dengan sistem Linux kita seperti mengkompile kernel atau menginstall Linux lain, data tetap aman dan terjaga karena terpisah di partisi lain.
Partisi “swap”
Untuk keperluan swap memori, idealnya adalah 2x besar RAM.


Untuk langkah-langkah selanjutnya kita hanya perlu mengikuti arahan yang diberikan, mengklik tombol “Forward” atau “Install” dan biarkan proses berjalan hingga selesai, pada akhir proses instalasi kita perlu merestart sistem Ubuntu (jangan lupa mengeluarkan LiveCD Ubuntunya) untuk menjalankan sistem Linux dengan menggunakan Ubuntu yang terinstall di harddisk.

Untuk langkah-langkah selanjutnya kita hanya perlu mengikuti arahan yang diberikan, mengklik tombol “Forward” atau “Install” dan biarkan proses berjalan hingga selesai, pada akhir proses instalasi kita perlu merestart sistem Ubuntu (jangan lupa mengeluarkan LiveCD Ubuntunya) untuk menjalankan sistem Linux dengan menggunakan Ubuntu yang terinstall di harddisk.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s